KasihNya seperti sungai, kasihNya seperti sungai, kasihNya seperti sungai di hatiku. Sepenggal lagu rohani yang dinyanyikan dalam ibadah puji-pujian. Memang benar kasihNya seperti sungai, artinya tidak berhenti mengalir dan terus menerobos setiap penghalang didepannya. Apapun masalah yang menghadang, tidak menghalangi kasih Tuhan untuk terus mengalir di hati kita sebagai obat pelipur lara.
Dalam menghadapi saat-saat sukacita, kita dengan semangat menyanyikan lagu ini, namun saat dukacita, masih mampukah kita menyanyikannya? Sangat sulit, sebab bukan senyuman yang terlihat ketika kita menyanyikannya, melainkan air mata kesedihan. Saat dukacita, kesedihan melanda hati kita, kita tidak melihat dan merasakan kasihNya mengalir di hidup kita. Yang kita lihat didepan mata hanya masalah, kesukaran hidup, hati kita nelangsa, tanpa pengharapan masa depan.
Sadarkah kita, bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, sebab Dia Allah yang setia. Dia tidak pernah membiarkan kita dicobai melampaui kekuatan kita, sebab Dia Allah yang baik. Dia sanggup memberi kekuatan dan penghiburan dikala kita lemah dan bersusah hati, sebab Dia Allah yang perkasa. Firman Tuhan berkata, tidak sehelai rambut pun di kepala kita jatuh tanpa sepengetahuanNya. Rambutkah yang diperhatikan Tuhan? Tidak. Kitalah yang diperhatikannya sebab kita biji mataNya.
Namun, mengapa kita masih bergumul dengan masalah kita dan hidup kita tidak akan pernah terlepas dari masalah dan penderitaan? Sebab kita masih tinggal di dunia yang dikutuk oleh karena kesalahan manusia sendiri. Kita kadang-kadang yang mencari-cari masalah. Kita lebih mendengarkan suara-suara dari dunia ini yang menjerumuskan kita, menjauhkan kita dari kebenaran, dan menyesatkan kita.
Tapi tidak menghalangi kasihNya untuk mengalir, memenuhi hati kita untuk kembali kepadaNya. PenghiburanNya lebih dari cukup untuk memulihkan hati kita yang penuh dengan amarah, kebencian, kekecewaan, dukacita, keangkuhan, dan kepedihan hidup. Tetap biarkan kasihNya mengalir dalam hati kita sehingga menjadi mata air di dalam hati kita yang meluap keluar sehingga orang di sekitar kita turut merasakanNya.
Tuhan adalah sumber air hidup yang kekal, yang selalu mengalir dan tidak akan pernah kering, membasahi hati-hati yang kering dan nelangsa, memberi penghiburan dan pengharapan yang pasti yang tidak akan pernah bisa diberikan oleh dunia ini sekarang dan selama-lamanya.
Jumat, 12 April 2013
Selasa, 09 April 2013
Mengejar kebahagiaan
Tak bisa dipungkiri setiap orang menginginkan kebahagian dalam hidupnya. Tak segan-segan, kita terus mengejar apa yang kita yakini akan mendatangkan kebahagian, seperti kekayaan, kesuksesan, ketenaran dan lain sebagainya. Jika hal-hal tersebut memang benar mendatangkan kebahagiaan, mengapa ada orang-orang yang mengakhiri hidupnya setelah mereka mendapatkannya? Tapi tidak sedikit juga yang tidak belajar dari orang lain agar tidak mudah mengakhiri hidupnya tetapi malah mengikutinya.
Jika dikatakan kebahagiaan ada di dalam hati kita, maka mengapa kita tidak merasakannya? Karena kita hidup dengan apa yang kita lihat dan kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita merasa iri jika orang lain kehidupannya lebih baik dari kita dan kita mencemooh orang lain yang kehidupannya dibawah kita. Kita memposisikan diri kta sebagai mahluk yang paling benar dan menganggap orang lain salah. Kita menjadi hakim bagi orang lain tetapi tidak bagi diri kita sendiri.
Atau kita hidup mengikuti apa kata orang kebanyakan, apa yang diikuti orang banyak, maka kita ikut-ikutan tanpa meneliti terlebih dahulu apakah yang diikutinya benar atau tidak. Mengikuti arus perubahan zaman agar tidak ketinggalan zaman, kita pikir itulah kebahagiaan. Menjadi mahluk serba tahu, dengan mengisi pengetahuan kita dengan arus gelombang informasi yang up to date, entah informasi yang berguna atau tidak, siapa yang peduli, yang penting terlihat cerdas dan nyambung dengan orang banyak.Ini pun tidak mendatangkan kebahagiaan sebab banyak orang yang stress setelah menjadi orang yang serba tahu.
Jika ditelusuri, apakah kebahagiaan itu? Ternyata jika kita hidup dalam kebenaran, maka kita adalah orang yang berbahagia. Sebab jika kita hidup benar, maka kita berdiri di pihak yang benar, yaitu Tuhan Yesus, maka siapakah yang dapat menghancurkan kita, jika Tuhan di pihak kita? Kemiskinankah, kemelaratankah, dukacitakah? Tidak ada, bahkan kematian kekal yang mengerikan pun sudah dikalahkan olehNya.
Jadi mengejar kebahagiaan adalah mengejar kebenaran, itulah yang sedang kita kerjakan seharusnya, bukan yang lain. Ini bukan pekerjaan yang mudah, dan selama kita kita hidup di dunia, selama itu pula kita terus mengejarnya supaya tidak ada kesempatan bagi setan untuk menyesatkan kita. Kita tidak kebal dengan tipu daya setan tapi kita bisa menjauhkan diri darinya dengan hidup berjalan menurut kehendak Tuhan.
Imanuel, Tuhan beserta kita, Dia hidup di dalam kita, menuntun kita setiap saat. Jangan padamkan suaraNya, tetapi dengarkan suaraNya, taati FirmanNya, maka kita akan berbahagia. Suka cita sejati hanya ada di dalam Tuhan, sebab Dia adalah Raja Damai, ya hanya bagi orang yang mau menerimaNya.
Jika dikatakan kebahagiaan ada di dalam hati kita, maka mengapa kita tidak merasakannya? Karena kita hidup dengan apa yang kita lihat dan kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. Kita merasa iri jika orang lain kehidupannya lebih baik dari kita dan kita mencemooh orang lain yang kehidupannya dibawah kita. Kita memposisikan diri kta sebagai mahluk yang paling benar dan menganggap orang lain salah. Kita menjadi hakim bagi orang lain tetapi tidak bagi diri kita sendiri.
Atau kita hidup mengikuti apa kata orang kebanyakan, apa yang diikuti orang banyak, maka kita ikut-ikutan tanpa meneliti terlebih dahulu apakah yang diikutinya benar atau tidak. Mengikuti arus perubahan zaman agar tidak ketinggalan zaman, kita pikir itulah kebahagiaan. Menjadi mahluk serba tahu, dengan mengisi pengetahuan kita dengan arus gelombang informasi yang up to date, entah informasi yang berguna atau tidak, siapa yang peduli, yang penting terlihat cerdas dan nyambung dengan orang banyak.Ini pun tidak mendatangkan kebahagiaan sebab banyak orang yang stress setelah menjadi orang yang serba tahu.
Jika ditelusuri, apakah kebahagiaan itu? Ternyata jika kita hidup dalam kebenaran, maka kita adalah orang yang berbahagia. Sebab jika kita hidup benar, maka kita berdiri di pihak yang benar, yaitu Tuhan Yesus, maka siapakah yang dapat menghancurkan kita, jika Tuhan di pihak kita? Kemiskinankah, kemelaratankah, dukacitakah? Tidak ada, bahkan kematian kekal yang mengerikan pun sudah dikalahkan olehNya.
Jadi mengejar kebahagiaan adalah mengejar kebenaran, itulah yang sedang kita kerjakan seharusnya, bukan yang lain. Ini bukan pekerjaan yang mudah, dan selama kita kita hidup di dunia, selama itu pula kita terus mengejarnya supaya tidak ada kesempatan bagi setan untuk menyesatkan kita. Kita tidak kebal dengan tipu daya setan tapi kita bisa menjauhkan diri darinya dengan hidup berjalan menurut kehendak Tuhan.
Imanuel, Tuhan beserta kita, Dia hidup di dalam kita, menuntun kita setiap saat. Jangan padamkan suaraNya, tetapi dengarkan suaraNya, taati FirmanNya, maka kita akan berbahagia. Suka cita sejati hanya ada di dalam Tuhan, sebab Dia adalah Raja Damai, ya hanya bagi orang yang mau menerimaNya.
Rabu, 16 Januari 2013
Memilih
Setiap orang berhak untuk memilih. Entah dia orang kaya atau miskin pasti bisa untuk memilih. Apakah memilih untuk berbuat baik atau jahat. Dalam menjalani hidup ini, kita akan menemukan banyak pilihan yang harus kita pilih atau memilih untuk tidak memilih. Setiap pilihan memiliki sebab akibatnya sendiri. Sebab itu sebelum memilih, kita harus mempertimbangkan dahulu secara cermat.
Banyak orang ketika ditanya arah hidupnya, mengatakan akan mengikuti arus, mengikuti kata hati, atau lihat saja nanti. Keadaan kita pun sekarang adalah akibat pilihan kita sebelumnya. Pasti ada penyesalan, kebanggaan akan pilihan kita walaupun kenyataannya pilihan kita pun dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan dan orang-orang di sekeliling kita.
Apapun yang telah terjadi, biarlah menjadi bagian dan pembelajaran bagi kita untuk terus bertumbuh agar karakter kita menjadi lebih baik lagi. Selama masih ada waktu, selama itu pula kita dapat memilih dengan benar apa yang seharusnya kita pilih.
Seperti Adam dan Hawa, ketika di taman Eden, diperhadapkan kepada pilihan untuk memilih pohon kehidupan atau pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Walaupun sudah dilarang untuk tidak memilih pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, tetap saja manusia tidak memilih pohon kehidupan yang pastinya tidak membuat manusia jatuh ke dalam dosa dan sebagai akibatnya diusir dari taman Eden.
Begitu juga bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua, mereka ditantang untuk memilih kehidupan dengan mengikuti Allah Israel atau kecelakaan dengan mengikuti dewa Baal. Mereka berjanji untuk memilih mengikuti Allah Israel agar mereka hidup, namun berjalannya waktu mereka juga menyimpang mengikuti dewa Baal. Tentu saja akibat dari pilihan mereka, ada harga yang harus dibayar.
Ternyata lebih mudah memilih daripada menjalani pilihan yang telah kita pilih, terutama pilihan yang membawa kepada kehidupan. Dengan ancaman sekalipun, kita bisa berkelit dari pilihan kita. Misalnya mengenai dosa, walaupun kita tahu dosa itu mendatangkan maut, tetap saja kita tidak mau melepasnya.
Sebab itu Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya, maksudnya Allah yang memberikan pilihan untuk mengikutiNya adalah Allah yang tidak membiarkan kita sendirian menjalani pilihanNya. Bisa saja kita mengalami kendala dan kejatuhan saat kita menjalani pilihanNya, namun janganlah membuat kita patah semangat untuk bangkit kembali. Tetap kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar kepada Allah bukan karena Allah kita menakutkan tetapi karena kita menghormatiNya.
Tidak menjadi masalah sejak kapan kita menjadi pengikutNya, apakah kita dipanggil sejak bayi, anak-anak, remaja, dewasa atau tua sekalipun, perkenalan kita dengan Tuhan diharapkan akan terus berkembang dan menghasilkan buah sebab kebenaranNya adalah bukan kita yang memilihNya tetapi Dia yang memilih kita untuk diselamatkan, namun hasil akhirnya tetap ditangan kita, apakah kita memilihNya atau tidak.
Contoh yang baik seperti penjahat di sebelah kanan Tuhan Yesus, memilih untuk percaya kepadaNya, tidak seperti penjahat di sebelah kiri yang menghujatNya. Akibatnya penjahat di sebelah kananNya diselamatkan dan hidup bersama-sama di Firdaus.
Pilihlah kehidupan di dalam Tuhan Yesus
Banyak orang ketika ditanya arah hidupnya, mengatakan akan mengikuti arus, mengikuti kata hati, atau lihat saja nanti. Keadaan kita pun sekarang adalah akibat pilihan kita sebelumnya. Pasti ada penyesalan, kebanggaan akan pilihan kita walaupun kenyataannya pilihan kita pun dipengaruhi oleh keluarga, lingkungan dan orang-orang di sekeliling kita.
Apapun yang telah terjadi, biarlah menjadi bagian dan pembelajaran bagi kita untuk terus bertumbuh agar karakter kita menjadi lebih baik lagi. Selama masih ada waktu, selama itu pula kita dapat memilih dengan benar apa yang seharusnya kita pilih.
Seperti Adam dan Hawa, ketika di taman Eden, diperhadapkan kepada pilihan untuk memilih pohon kehidupan atau pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat. Walaupun sudah dilarang untuk tidak memilih pohon pengetahuan yang baik dan yang jahat, tetap saja manusia tidak memilih pohon kehidupan yang pastinya tidak membuat manusia jatuh ke dalam dosa dan sebagai akibatnya diusir dari taman Eden.
Begitu juga bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua, mereka ditantang untuk memilih kehidupan dengan mengikuti Allah Israel atau kecelakaan dengan mengikuti dewa Baal. Mereka berjanji untuk memilih mengikuti Allah Israel agar mereka hidup, namun berjalannya waktu mereka juga menyimpang mengikuti dewa Baal. Tentu saja akibat dari pilihan mereka, ada harga yang harus dibayar.
Ternyata lebih mudah memilih daripada menjalani pilihan yang telah kita pilih, terutama pilihan yang membawa kepada kehidupan. Dengan ancaman sekalipun, kita bisa berkelit dari pilihan kita. Misalnya mengenai dosa, walaupun kita tahu dosa itu mendatangkan maut, tetap saja kita tidak mau melepasnya.
Sebab itu Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihiNya, maksudnya Allah yang memberikan pilihan untuk mengikutiNya adalah Allah yang tidak membiarkan kita sendirian menjalani pilihanNya. Bisa saja kita mengalami kendala dan kejatuhan saat kita menjalani pilihanNya, namun janganlah membuat kita patah semangat untuk bangkit kembali. Tetap kerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar kepada Allah bukan karena Allah kita menakutkan tetapi karena kita menghormatiNya.
Tidak menjadi masalah sejak kapan kita menjadi pengikutNya, apakah kita dipanggil sejak bayi, anak-anak, remaja, dewasa atau tua sekalipun, perkenalan kita dengan Tuhan diharapkan akan terus berkembang dan menghasilkan buah sebab kebenaranNya adalah bukan kita yang memilihNya tetapi Dia yang memilih kita untuk diselamatkan, namun hasil akhirnya tetap ditangan kita, apakah kita memilihNya atau tidak.
Contoh yang baik seperti penjahat di sebelah kanan Tuhan Yesus, memilih untuk percaya kepadaNya, tidak seperti penjahat di sebelah kiri yang menghujatNya. Akibatnya penjahat di sebelah kananNya diselamatkan dan hidup bersama-sama di Firdaus.
Pilihlah kehidupan di dalam Tuhan Yesus
Kamis, 06 Desember 2012
Kelahiran Yesus Kristus
Setiap bulan Desember, umat Kristiani merayakan hari kelahiran Yesus Kristus di dunia. Dia lahir ke dunia dengan misi untuk menyelamatkan manusia dengan menggantikan posisi kita yang seharusnya dihukum karena dosa kita. Kita tidak mampu menyelamatkan jiwa kita dengan cara kita, apapun usaha yang kita lakukan. Hanya oleh kematian Yesus Kristus, maka kita bisa diselamatkan dari kematian kekal. Itu pun kalau kita percaya dan menerima keselamatanNya.
Jadi kelahiran Yesus Kristus ke dunia adalah untuk mati bagi kita. Tidak mungkin seseorang bisa mati kalau tidak hidup dulu yang dimulai dari kelahiran. Yesus telah menjalani hidup sebagaimana manusia hidup. Dia meninggalkan Sorga mulia untuk lahir ke dunia melewati seorang perawan Maria yang memiliki calon suami Yusuf yang bukan dari keluarga kaya raya, hanya seorang tukang kayu.
Banyak pengorbanan yang terjadi ketika Yesus lahir. Maria yang rela dikucilkan oleh lingkungannya karena hamil sebelum menikah, Yusuf yang rela menemani Maria yang sudah hamil bukan karena dirinya, para bayi yang dibunuh oleh Herodes yang mau mengagalkan kelahiran calon raja, para majus yang jauh2x datang dari negerinya, para gembala yang meninggalkan ternaknya untuk menyambut kelahiran Sang Raja dan Yesus yang lahir di palungan karena tidak ada tempat yang layak yang tersedia.
Kelahiran yang sederhana agar semua orang dapat menemukan Sang Mesias tanpa terkecuali karena tanpa penjagaan ketat keamanan, namun membawa dampak yang besar bagi kelangsungan hidup manusia. Manusia tanpa pengharapan hidup kekal kini mendapatkannya kembali.
Bagi anak-anak kecil, Natal merupakan hari sukacita karena akan mendapatkan hadiah dari orang tua, sekolah Minggu dan Sinterklas, hari libur jalan2x, dan hari yang menyenangkan bisa berkumpul bersama keluarga menikmati makanan yang enak2x. Semakin bertambahnya usia, semakin kita merenungkan makna Natal yang sarat dengan penderitaan dan pengorbanan. Lewat Natal, kita semakin mengerti betapa besarnya kasih Tuhan kepada manusia walaupun manusia menolakNya karena pengertian kita yang sangat dangkal.
Lahir untuk mati, hidup untuk dihina dan mati untuk kita orang berdosa. Itulah yang Tuhan Yesus telah lakukan bagi kita. Betapa kita harus bersyukur dan setia kepadaNya dengan hidup sesuai kehendakNya.
Jadi kelahiran Yesus Kristus ke dunia adalah untuk mati bagi kita. Tidak mungkin seseorang bisa mati kalau tidak hidup dulu yang dimulai dari kelahiran. Yesus telah menjalani hidup sebagaimana manusia hidup. Dia meninggalkan Sorga mulia untuk lahir ke dunia melewati seorang perawan Maria yang memiliki calon suami Yusuf yang bukan dari keluarga kaya raya, hanya seorang tukang kayu.
Banyak pengorbanan yang terjadi ketika Yesus lahir. Maria yang rela dikucilkan oleh lingkungannya karena hamil sebelum menikah, Yusuf yang rela menemani Maria yang sudah hamil bukan karena dirinya, para bayi yang dibunuh oleh Herodes yang mau mengagalkan kelahiran calon raja, para majus yang jauh2x datang dari negerinya, para gembala yang meninggalkan ternaknya untuk menyambut kelahiran Sang Raja dan Yesus yang lahir di palungan karena tidak ada tempat yang layak yang tersedia.
Kelahiran yang sederhana agar semua orang dapat menemukan Sang Mesias tanpa terkecuali karena tanpa penjagaan ketat keamanan, namun membawa dampak yang besar bagi kelangsungan hidup manusia. Manusia tanpa pengharapan hidup kekal kini mendapatkannya kembali.
Bagi anak-anak kecil, Natal merupakan hari sukacita karena akan mendapatkan hadiah dari orang tua, sekolah Minggu dan Sinterklas, hari libur jalan2x, dan hari yang menyenangkan bisa berkumpul bersama keluarga menikmati makanan yang enak2x. Semakin bertambahnya usia, semakin kita merenungkan makna Natal yang sarat dengan penderitaan dan pengorbanan. Lewat Natal, kita semakin mengerti betapa besarnya kasih Tuhan kepada manusia walaupun manusia menolakNya karena pengertian kita yang sangat dangkal.
Lahir untuk mati, hidup untuk dihina dan mati untuk kita orang berdosa. Itulah yang Tuhan Yesus telah lakukan bagi kita. Betapa kita harus bersyukur dan setia kepadaNya dengan hidup sesuai kehendakNya.
Rabu, 07 November 2012
Hukum yang terutama
Hukum yang terutama yang diajarkan Tuhan Yesus adalah mengasihi Allah dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap kekuatan kita. Setelah itu mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri kita sendiri.
Jika kita sudah melakukannya, maka hidup kita sudah sempurna.
Namun menjalankannya, memerlukan proses terus menerus karena keinginan daging kita adalah mementingkan diri sendiri dan menolak Tuhan.
Kalau kita mengasihi Tuhan dengan segenap hidup kita, maka kita percaya bahwa Tuhan sanggup memberkati dan menolong bahkan menyelamatkan hidup kita. Kita tidak akan melakukan hal-hal yang menyakiti hatiNya. Kita akan menjadi pribadi yang menyenangkan hatiNya. Kita mau hidup kita sama sepertiNya sebab kita mau taat pada FirmanNya.
Aplikasi dari kasih kita kepadaNya tertuang di dalam kasih kepada sesama kita, sebab bagaimana mungkin kita dapat mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, kalau sesama kita membenci sesama kita yang kelihatan. Tuhan telah menempatkan diriNya di dalam setiap manusia. Sebab itu, apapun yang kita perbuat kepada sesama kita, kita telah melakukannya seperti kepada Tuhan.
Ketika kita bertemu dengan Tuhan diakhir hidup kita, Tuhan tidak menanyakan berapa banyak harta kita, berapa besar prestasi kita, tetapi apa yang telah kita lakukan kepada sesama kita. Apakah hidup kita menjadi berkat bagi sesama kita atau menjadi beban mereka.
Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan dan Tuhan akan melakukan bagianNya dalam hidup kita. Biarlah hidup kita untuk memuliakan NamaNya saja, tidak ada motivasi yang lain. Hidup tulus, taat, dan setia kepadaNya.
Jika kita sudah melakukannya, maka hidup kita sudah sempurna.
Namun menjalankannya, memerlukan proses terus menerus karena keinginan daging kita adalah mementingkan diri sendiri dan menolak Tuhan.
Kalau kita mengasihi Tuhan dengan segenap hidup kita, maka kita percaya bahwa Tuhan sanggup memberkati dan menolong bahkan menyelamatkan hidup kita. Kita tidak akan melakukan hal-hal yang menyakiti hatiNya. Kita akan menjadi pribadi yang menyenangkan hatiNya. Kita mau hidup kita sama sepertiNya sebab kita mau taat pada FirmanNya.
Aplikasi dari kasih kita kepadaNya tertuang di dalam kasih kepada sesama kita, sebab bagaimana mungkin kita dapat mengasihi Tuhan yang tidak kelihatan, kalau sesama kita membenci sesama kita yang kelihatan. Tuhan telah menempatkan diriNya di dalam setiap manusia. Sebab itu, apapun yang kita perbuat kepada sesama kita, kita telah melakukannya seperti kepada Tuhan.
Ketika kita bertemu dengan Tuhan diakhir hidup kita, Tuhan tidak menanyakan berapa banyak harta kita, berapa besar prestasi kita, tetapi apa yang telah kita lakukan kepada sesama kita. Apakah hidup kita menjadi berkat bagi sesama kita atau menjadi beban mereka.
Lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan dan Tuhan akan melakukan bagianNya dalam hidup kita. Biarlah hidup kita untuk memuliakan NamaNya saja, tidak ada motivasi yang lain. Hidup tulus, taat, dan setia kepadaNya.
Jumat, 02 November 2012
Melangkah pasti
Banyak dari kita masih bertanya-tanya, apakah kita sudah berjalan sesuai kehendakNya? Kita seringkali terpesona melihat kesuksesan orang lain dan ingin menjadi seperti mereka. Kita sering juga mengkultuskan orang-orang yang kita anggap suci tapi akhirnya kecewa ketika mereka melakukan pelanggaran seperti kita. Contohnya pendeta yang pandai berkotbah namun tidak pandai dalam bersikap, bahkan menjadi batu sandungan yang membuat jemaatnya undur dari kebaktian.
Tidak ada orang yang sempurna. Jika ada orang yang mengaku dirinya orang suci, berarti dia melawan Tuhan.Setiap orang yang hidup di dunia ini adalah orang berdosa yang memerlukan Tuhan karena hanya Tuhan yang mampu menyucikan kita.
Setiap kita memiliki panggilan hidup masing-masing, bisa menjadi dokter, guru, pengusaha, karyawan dan lain-lain. Ada orang yang setelah menjadi dokter, lalu berubah profesi jadi pendeta dan lain sebagainya. Selama profesi itu sesuai dengan kehendak Tuhan dan membuat orang tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka itu patut ditiru dan diteladani.
Bila setiap profesi yang berkenan kepada Tuhan, dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka hidupnya akan berhasil dan menjadi berkat bagi banyak orang. Itulah arti hidup yang sesungguhnya yang harus kita perjuangkan. Bukan mencari hal-hal yang sia-sia dengan jalan pintas mencari kekayaan dan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara lalu mulai menebus kesalahannya dengan menjadi donatur di kegiatan sosial dan gereja.
Kita tidak bisa menebus dosa dengan dosa. Pertobatan yang ditutut oleh Tuhan ketika kita ingin hidup kita merdeka dari dosa. Melangkah pasti bersama Tuhan melakukan kewajiban kita masing-masing, jangan mau dipengaruhi oleh nasihat-nasihat yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Yakinlah bahwa kita tidak berjalan sendiri, ketika kita menerima Tuhan dalam hidup kita. Taatilah Firman Tuhan walaupun terasa berat dan melelahkan karena Tuhan tidak bisa pernah disesatkan oleh siapa pun juga, apa yang ditabur orang, itu yang akan dituainya.
Tetap kerjakan keselamatan kita dengan hidup takut dan gentar kepadaNya. Percayalah Dia akan menguatkan langkah kita menuju kesempurnaan bersamaNya.
Tidak ada orang yang sempurna. Jika ada orang yang mengaku dirinya orang suci, berarti dia melawan Tuhan.Setiap orang yang hidup di dunia ini adalah orang berdosa yang memerlukan Tuhan karena hanya Tuhan yang mampu menyucikan kita.
Setiap kita memiliki panggilan hidup masing-masing, bisa menjadi dokter, guru, pengusaha, karyawan dan lain-lain. Ada orang yang setelah menjadi dokter, lalu berubah profesi jadi pendeta dan lain sebagainya. Selama profesi itu sesuai dengan kehendak Tuhan dan membuat orang tersebut menjadi lebih baik dari sebelumnya, maka itu patut ditiru dan diteladani.
Bila setiap profesi yang berkenan kepada Tuhan, dikerjakan dengan sungguh-sungguh maka hidupnya akan berhasil dan menjadi berkat bagi banyak orang. Itulah arti hidup yang sesungguhnya yang harus kita perjuangkan. Bukan mencari hal-hal yang sia-sia dengan jalan pintas mencari kekayaan dan kekuasaan dengan menghalalkan segala cara lalu mulai menebus kesalahannya dengan menjadi donatur di kegiatan sosial dan gereja.
Kita tidak bisa menebus dosa dengan dosa. Pertobatan yang ditutut oleh Tuhan ketika kita ingin hidup kita merdeka dari dosa. Melangkah pasti bersama Tuhan melakukan kewajiban kita masing-masing, jangan mau dipengaruhi oleh nasihat-nasihat yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Yakinlah bahwa kita tidak berjalan sendiri, ketika kita menerima Tuhan dalam hidup kita. Taatilah Firman Tuhan walaupun terasa berat dan melelahkan karena Tuhan tidak bisa pernah disesatkan oleh siapa pun juga, apa yang ditabur orang, itu yang akan dituainya.
Tetap kerjakan keselamatan kita dengan hidup takut dan gentar kepadaNya. Percayalah Dia akan menguatkan langkah kita menuju kesempurnaan bersamaNya.
Minggu, 14 Oktober 2012
Beban
Tidak ada seorangpun yang mau diberi beban karena tidak membuat kita berjalan leluasa. Namun setiap orang pasti memiliki beban hidup yang harus dipikul. Baik itu beban karena kesalahan sendiri, kesalahan orang lain atau beban dari lahir. Beban bisa berarti kelemahan fisik kita, kekurangan mental kita, atau masalah hidup. Tanpa beban, kita menjadi orang yang berjalan tanpa tujuan. Dengan membawa beban, maka kita akan berjalan dengan fokus untuk menyelesaikannya.
Jika orang berjalan tanpa beban, maka akan mudah menyimpang ke kanan dan ke kiri sebab tidak ada tempat yang dituju. Beban membuat kita mau belajar dari kekurangan dan kelemahan kita agar kita bisa memaksimalkan potensi yang ada di dalam kita. Orang yang merasa dirinya baik-baik saja akan mudah merasa sombong dan tidak menghargai hidupnya. Tetapi orang yang merasa dirinya buruk akan mudah putus asa dan tidak menghargai hidupnya juga.
Jadi orang yang menghargai hidupnya adalah orang yang mampu menerima dirinya apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Tidak ada orang yang seluruh hidupnya adalah kekurangan atau kelebihan. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jika kita tidak mengasihi diri kita sendiri, maka tidak mungkin kita mengasihi orang lain, apalagi Tuhan.
Tuhan tahu bahwa kita merasakan beban hidup yang berat selama ada di dunia ini. Tuhan tidak melepaskan beban kita, tapi Dia memberikan beban yang ringan yang dapat kita tanggung. Sebab Tuhan setia dan mengasihi kita. Beban membuat kita menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab.
Sebuah contoh, orang yang berjalan diatas tali, akan lebih mudah dia berjalan fokus ke depan dengan membawa gala untuk menyeimbangkan tubuhnya. Jika gala yang dipegangnya terlalu berat, maka dia akan jatuh, demikian juga jika terlalu ringan, maka akan sia-sia, bisa tertiup angin dan jatuh. Gala yang pas yang sesuailah yang akan mempercepat langkahnya untuk sampai di tujuan.
Begitupun hidup kita, gala yang kita pegang, bila terlalu ringan, maka kita akan terlena dan jatuh, tapi jika terlalu berat, maka kita juga akan langsung jatuh. Gala yang pas yang akan membuat kita berjalan maju. Beban apapun yang kita sedang dipikul, yakinlah bahwa itu beban yang pas yang sanggup kita pikul. Jika kita berjalan bersama dengan Tuhan, maka ketika kita goyah, maka Dia akan memegang tangan kita supaya kita tidak terjatuh. Tetapi jika kita menepis tangan Tuhan, maka dipastikan kita akan jatuh.
Jika orang berjalan tanpa beban, maka akan mudah menyimpang ke kanan dan ke kiri sebab tidak ada tempat yang dituju. Beban membuat kita mau belajar dari kekurangan dan kelemahan kita agar kita bisa memaksimalkan potensi yang ada di dalam kita. Orang yang merasa dirinya baik-baik saja akan mudah merasa sombong dan tidak menghargai hidupnya. Tetapi orang yang merasa dirinya buruk akan mudah putus asa dan tidak menghargai hidupnya juga.
Jadi orang yang menghargai hidupnya adalah orang yang mampu menerima dirinya apa adanya dengan segala kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya. Tidak ada orang yang seluruh hidupnya adalah kekurangan atau kelebihan. Setiap orang memiliki kekurangan dan kelebihannya masing-masing. Jika kita tidak mengasihi diri kita sendiri, maka tidak mungkin kita mengasihi orang lain, apalagi Tuhan.
Tuhan tahu bahwa kita merasakan beban hidup yang berat selama ada di dunia ini. Tuhan tidak melepaskan beban kita, tapi Dia memberikan beban yang ringan yang dapat kita tanggung. Sebab Tuhan setia dan mengasihi kita. Beban membuat kita menjadi pribadi yang kuat dan bertanggung jawab.
Sebuah contoh, orang yang berjalan diatas tali, akan lebih mudah dia berjalan fokus ke depan dengan membawa gala untuk menyeimbangkan tubuhnya. Jika gala yang dipegangnya terlalu berat, maka dia akan jatuh, demikian juga jika terlalu ringan, maka akan sia-sia, bisa tertiup angin dan jatuh. Gala yang pas yang sesuailah yang akan mempercepat langkahnya untuk sampai di tujuan.
Begitupun hidup kita, gala yang kita pegang, bila terlalu ringan, maka kita akan terlena dan jatuh, tapi jika terlalu berat, maka kita juga akan langsung jatuh. Gala yang pas yang akan membuat kita berjalan maju. Beban apapun yang kita sedang dipikul, yakinlah bahwa itu beban yang pas yang sanggup kita pikul. Jika kita berjalan bersama dengan Tuhan, maka ketika kita goyah, maka Dia akan memegang tangan kita supaya kita tidak terjatuh. Tetapi jika kita menepis tangan Tuhan, maka dipastikan kita akan jatuh.
Langganan:
Postingan (Atom)