Selasa, 17 November 2015

Iman yang disertai kesabaran

Kisah di Markus 5:21-43 ada 2 kisah mujizat yang terjadi di dalam pelayanan Yesus. Kepala rumah ibadat yang mempunyai anak perempuan yang sakit parah hampir mati dan wanita yang mengalami pendarahan selama 12 tahun, yang sudah diobati berkali-kali namun tidak sembuh juga. Keduanya memiliki iman bahwa Yesus pasti bisa menyembuhkan segala macam penyakit. Keduanya datang kepada Yesus dan memohon kesembuhan. Iman yang disertai dengan perbuatan telah mereka lakukan.

Tetapi masih ada yang perlu mereka kerjakan agar harapan atau mujizat menjadi nyata, yaitu kesabaran. Jika kepada rumah ibadat tidak sabar, maka ketika dalam perjalanan ke rumahnya, dia akan menggerutu ketika Yesus berhenti untuk menanyakan siapakah yang menjamah jubahNya. Anak yang sakit parah hampir mati tentu memerlukan pertolongan dengan segera tanpa ditunda-tunda lagi, taruhannya nyawa bisa melayang. Jika zaman sekarang mobil ambulance diberikan prioritas untuk lewat terlebih dahulu karena ada kepentingan khusus yang harus didahulukan.

Begitu juga anak kepala rumah ibadat ini, bisa saja Yesus nanti berbicaranya dengan perempuan yang menderita pendarahan. Jika wanita itu sudah sembuh ya sudah tidak usah berbicara lagi, nanti saja, mungkin kita akan berpikiran seperti itu. Tetapi sepanjang perjalanan, tidak ada kata-kata keberatan dari kepala rumah ibadat, sampai Yesus di rumahnya. Benar saja, anaknya sudah mati, selesai sudah usahanya, bahkan orang-orang dari keluarganya menghimbau agar Yesus tidak usah repot-repot menyembuhkan, karena sudah mati.

Bisa saja kepala rumah ibadat ini protes kepada Yesus karena berlama-lama dijalan jadi semuanya terlambat. Kesabarannya membawa bukan hanya kesembuhan dari penyakit tetapi kebangkitan anaknya dari kematian. Tidak ada dokter mana pun yang sanggup membangkitkan orang mati. Sebenarnya dia butuh tabib untuk menyembuhkan anaknya, tetapi dengan imannnya, dia bertemu Tuhan yang sanggup memberi kehidupan. Pasti imannya semakin bertumbuh kepada Yesus.

Wanita yang mengalami pendarahan pun memerlukan kesabaran untuk sembuh dari penyakitnya. Dia sudah berusaha berobat kemana-mana, sampai dia mendengar berita tentang Yesus. Imannya membawa dia untuk datang kepada Yesus ditengah kerumunan orang banyak. Tidak mudah meminta perhatian Yesus, tetapi imannya mengatakan bahwa jubahNya saja mendatangkan kesembuhan. Padahal tidak pernah ada yang menjamah jubah Yesus lalu sembuh pada saat itu.

Begitu dia menjamah jubahNya, dia merasa sembuh dari penyakitnya. Bukan hanya sembuh, Yesus pun berhenti dan mencari siapa yang menjamah jubahNya. Yesus tahu ada kuasa kesembuhan keluar dari diriNya yang menyembuhkannya. Bukan berarti Yesus tidak tahu siapa yang menjamahNya, tetapi Dia ingin agar wanita itu bersaksi apa yang telah Yesus lakukan. Wanita ini bukan hanya mendapatkan kesembuhan lewat imannya, tetapi dia beroleh keselamatan, sebab kini dia tahu Yesus bukan hanya tabib, tetapi Tuhan yang menyelamatkan.

Kepala rumah ibadat dan wanita yang mengalami pendarahan, semula hanya ingin beroleh kesembuhan, tetapi lewat perjumpaan dengan Yesus secara pribadi, hidup mereka diubahkan. Mereka mendapatkan jawaban dari pergumulan hidup mereka bahwa Yesus itu Tuhan yang sanggup melakukan apapun dan dengan cara apapun dan dalam waktuNya. Tidak ada yang mustahil bagiNya.

Kita pun dapat belajar dari pengalaman 2 tokoh ini. Mereka dengan iman dan kesabaran akhirnya mendapatkan apa yang mereka butuhkan. Persoalan hidup jika kita sikapi dengan benar, yaitu datang kepada Yesus, maka bukan hanya persoalan selesai, tetapi cara pandang kita terhadap Yesus pun akan berubah menjadi lebih baik. Yesus bukan manusia super, tetapi dia Tuhan semesta alam yang peduli dan mengasihi kita.

Senin, 16 November 2015

Iman yang benar pangkal selamat

Kita biasa mendengar rajin pangkal sukses atau hemat pangkal kaya. Bagaimana dengan iman yang benar pangkal selamat. Iman berarti percaya akan sesuatu. Kita bisa percaya apa saja yang menurut kita layak untuk dipercayai. Tapi kenyataannya, tidak semua layak dipercaya, karena bisa saja kebohongan yang kita percayai tanpa kita sadari. Sebab itu perlu kita beriman kepada sesuatu yang benar agar kita tidak tersesat atau menyesatkan orang lain dengan iman kita.

Mari belajar dari iman seorang penjahat yang disalib bersama Yesus dalam Lukas 32:39-43

39. Seorang dari penjahat yang di gantung itu menghujat Dia, katanya: "Bukankah Engkau adalah Kristus? Selamatkanlah diri-Mu dan kami!"
40. Tetapi yang seorang menegor dia, katanya: "Tidakkah engkau takut, juga tidak kepada Allah, sedang engkau menerima hukuman yang sama?
41. Kita memang selayaknya dihukum, sebab kita menerima balasan yang setimpal dengan perbuatan kita, tetapi orang ini tidak berbuat sesuatu yang salah."
42. Lalu ia berkata: "Yesus, ingatlah akan aku, apabila Engkau datang sebagai Raja."
43. Kata Yesus kepadanya: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya hari ini juga engkau akan ada bersama-sama dengan Aku di dalam Firdaus."

Pada saat Yesus disalib, ada 2 orang penjahat yang disalib dikanan dan kiriNya. Satu orang penjahat menghujat dan mencobaiNya agar melepaskan diriNya dan mereka juga, sebab mereka mendengar Yesus Raja orang Yahudi yang merupakan pengharapan orang Yahudi supaya mereka dilepaskan dari penjajahan Romawi. Padahal misi Yesus datang bukan untuk melepaskan mereka dari penjajahan fisik, tetapi penjajahan dosa yang mengakibatkan kematian kekal.

Namun ada 1 penjahat yang menyadari bahwa dirinya memang layak dihukum sebab bersalah kepada hukum yang berlaku saat itu, tetapi dia menyatakan bahwa Yesus tidak salah dan tidak layak dihukum. Bahkan dia meminta Yesus untuk mengingat dia jika nanti Yesus datang sebagai Raja. Padahal jelas sekali Yesus dan mereka akan bertemu dengan maut alias mati. Tidak ada orang yang disalib yang tidak akan mati pada saat itu. Penyaliban adalah pembunuhan secara perlahan sampai mati.

Apa yang mendasari penjahat satu ini untuk beriman alias percaya kepada Yesus bahwa hidupnya akan selamat jika Yesus mengingatnya. Pastilah penjahat ini percaya bahwa Yesus itu bukan sekedar raja tapi Raja dari hidup yang kekal, yaitu Tuhan atas alam semesta yang akan menghakimi semua orang di bumi. Tentu kalau penjahat ini tidak bisa lolos dari hukuman dunia, maka dia berharap bisa lolos dari hukuman kekal dan Yesus adalah satu-satunya jalan menuju hidup kekal itu.

Ada penafsir Alkitab berkata bahwa kemungkinan penjahat ini bukan penjahat krimimal, tetapi penjahat politik, yaitu menentang penjajahan Romawi. Misalnya pahlawan kemerdekaan kita dibunuh bukan karena mereka melakukan kejahatan kepada bangsa kita, tetapi mereka mengusir penjajah dari negeri kita. Tentu saja bagi penjajah, pahlawan kemerdekaan kita itu adalah penjahat yang patut dihukum atau dibunuh. Mungkin penjahat ini ikut menyaksikan pelayanan Yesus, melihat banyak mujizat, mendengar kotbahNya dan tumbuh iman dalam hatinya.

Ketika melihat Yesus disalibpun, imannya tidak luntur, bahkan semakin percaya bahwa Yesus bukan manusia biasa. Mana ada orang yang bisa orang rela disalib tanpa berontak padahal tidak ada kesalahan yang diperbuatNya, bahkan mengampuni kesalahan orang yang menyalibkanNya. Satu-satunya orang yang bisa mengampuni dosa adalah Tuhan sendiri, bukan manusia biasa. Hanya Tuhan yang bisa menyelamatkan manusia yang berdosa ini dengan jalan percaya kepadaNya agar Dia mengenalnya.

Betapa beruntungnya penjahat ini, diakhir hidupnya, dia telah meminta sesuatu yang diperlukan oleh seluruh umat manusia. Sesuatu yang sangat berharga dalam hidupnya dan hidup kita, keselamatan kekal. Dia yakin bahwa Yesus akan datang sebagai Raja dan dia hanya ingin Yesus mengingatnya. Dia tahu bahwa jika Raja mengingatnya, maka hidupnya akan aman jadi dia tidak meminta yang lain. Jika presiden negeri ini mengingat kita, bukankah kita sangat bangga dan memungkinkan kita bisa ikut menikmati fasilitasnya. Apalagi jika Raja diatas segala raja mengingat kita. Tidak seorangpun bisa masuk dalam Kerajaan Kekal jika Tuhan, Pemiliknya tidak mengenal/mengingat kita.

Maka Yesuspun menjawab permintaan pejahat ini, hari ini juga engkau bersama Aku di dalam Firdaus. Yesus tidak pikir-pikir dulu atau menjawab nanti kalau urusan sudah beres. Tidak, hari ini juga, artinya segera dan pasti permintaannya akan diberikan. Keselamatan bukan perkara ringan yang bisa ditunda atau diabaikan begitu saja, sebab kita tidak pernah tahu kapan kita mati. Segera ketika kita meminta keselamatan dengan percaya kepadaNya, maka Dia langsung memberikan jaminan keselamatan, sebab itulah kerinduan hatiNya agar manusia percaya kepadaNya dan diselamatkan. Iman yang benar akan membawa kita kepada keselamatan.

Jangan keraskan hati kita ketika Tuhan menjamah hati kita. Jangan seperti penjahat yang satunya lagi yang mengujat dan tidak percaya kepada Yesus, karena dia beriman kepada sesuatu yang fana.

Rabu, 21 Oktober 2015

Penderitaan

Penderitaan adalah sesuatu yang tidak mengenakkan, sebab itu ditakuti dan dijauhi kita. Tapi sayangnya, selama kita mendiami dunia ini, penderitaan akan setia menemani kita. Tak perlu kita mencarinya, dia akan senang hati mencari dan mendapatkan kita. Jadi percuma kita takut dan lari dari penderitaan, kita akan menemuinya. Persoalan kita yang salah atau bukan, kita tetap akan menderita di dunia. Ini adalah konsekuensi dosa yang telah dilakukan nenek moyang kita, Adam dan Hawa. Hidup kita tidak menjadi nyaman lagi.

Biasanya penderitaan kita identikan dengan pencobaan, masalah hidup yang membuat kita menderita, namanya juga penderitaan. Tidak hanya menderita karena lingkungan sekitar kita, tapi juga dari dalam diri kita, ikut mendukung dan menyempurnakan penderitaan itu, lengkaplah sudah. Contohnya ketika kita berhadapan dengan orang yang berbeda dengan kita, jahat misalnya, kita mungkin bisa bersabar, tetapi ditambah dengan kelemahan tubuh, misalnya kepala sakit, apakah kita tetap bisa bersabar?

Ayub, tokoh di Alkitab, dicobai oleh iblis, dia kaya raya dan hartanya habis seketika, padahal dia disebut orang yang saleh dan takut akan Tuhan. Tanpa permisi, penderitaan datang menghampirinya seketika, kaget pastinya, tapi dia bisa menjawab Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan. Hebat!, mana ada orang seperti Ayub, yang bisa memuji Tuhan dikala penderitaan yang bisa disebut parah itu. Namun itu belum selesai, iblis tidak puas dengan reaksi Ayub, protes bahwa Tuhan masih memberikan kesehatan, sesuatu yang berharga bagi manusia. Orang akan bayar berapapun untuk kesehatan, minum obat, olahraga, makan sehat untuk mengobati atau mencegah sakit.

Ketika Ayub terkena penderitaan dari dalam, yaitu tubuhnya kena penyakit kulit parah, dari ujung kepala sampai ujung kaki penuh barah busuk. Ayub tidak sanggup memuji Tuhan, dia pasrah dan menerima kondisinya, dia tahu bahwa Tuhan sanggup memberi yang baik dan buruk. Mana bisa manusia melawan Tuhan kalau Dia sudah berkehendak?

Tidak cukup sampai disitu penderitaan Ayub, istrinya menyalahkan dia, teman-temannya memojokkan dia dengan menuduh dia pasti berbuat dosa sehingga ditimpa malapetaka yang dasyat. Tuhan pun sepertinya tidak peduli dengan Ayub. Ayub sempat marah dan protes kepada istri, teman-temannya dan Tuhan. Ayub sudah diambang batas kesabarannya, untungnya Tuhan tidak diam. Akhirnya Ayub dipulihkan kembali, bahkan lebih dari sebelumnya.

Makna dari kisah Ayub ini adalah kita bisa menderita sampai tak seorangpun berada disisi kita, bahkan Tuhan sekalipun sepertinya diam. Tugas kita adalah introspeksi diri kita, jika salah kita bertobat, jika kita tidak mengerti mengapa semua terjadi, kita pasrah kepada Tuhan, sumber jawaban dari semua persoalan hidup. Bertahanlah sampai ambang batas kemampuan dan kesabaran kita, Tuhan akan bertindak.

Penderitaan biasanya lengkap dari luar dan dalam kita, lingkungan dan kelemahan tubuh seakan memusuhi kita, namun janjiNya tidak berubah.
13. Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.

Senin, 05 Oktober 2015

Kitab Daniel

Kitab penuh simbol di Alkitab yaitu Daniel dan Wahyu. Ditulis dalam rentang waktu yang berbeda jauh, namun saling berkaitan, membuktikan Alkitab adalah pewahyuan dari Allah.
Berikut rangkuman yang diteliti oleh pakar Alkitab, yang memudahkan kita untuk mengerti artinya, walaupun masih jauh dari sempurna.

Daniel 2 Kerajaan Babel, Raja Nebukadnezar, tahun kedua

Patung besar yang terdiri dari kepala dari emas tua, dada dan lengan dari perak, perut dan pinggang dari tembaga, paha dari besi, kaki sebagian dari besi dan tanah liat.
Terungkit lepas sebuah batu tanpa perbuatan tangan manusia, menimpa batu, tepat pada kakinya yang terbuat dari besi dan tanah liat, sehingga remuk.

Emas Tua melambangkan kerajaan Babel
Perak melambangkan kerajaan Persia
Tembaga melambangkan kerajaan Yunani
Besi melambangkan kerajaan Romawi

Batu melambangkan Kerajaan Allah yang tidak dapat binasa, Kis 4:11-12
11. Yesus adalah batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan--yaitu kamu sendiri--,namun ia telah menjadi batu penjuru.
12. Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan."

Daniel 8

Seekor domba jantan berdiri di depan sungai, memiliki 2 tanduk yang tinggi dan 1 tanduk lebih tinggi lagi, menanduk ke arah barat, utara, selatan
Seekor kambing jantan datang dari sebelah barat, melintasi seluruh bumi tanpa menginjak tanah, mempunyai tanduk aneh diantara kedua matanya

Domba jantan adalah raja-raja orang Media dan Persia
Kambing jantan berbulu kesat adalah raja negeri Yunani

Daniel bekerja kepada beberapa kerajaan

Daniel 1 Kerajaan Babel, Raja Nebukadnezar
Terjadi peristiwa
mimpi penglihatan raja mengenai sebuah patung besar, nubuat terpecahnya kerajaan itu
pembuatan patung emas untuk disembah sehingga terjadi peristiwa dapur api yang dialami Sadrakh, Mesakh, Abednego, 
mimpi penglihatan raja mengenai sebatang pohon yang tinggi di bumi yang akhirnya ditebang, nubuat tentang nasib raja yang direndahkan lalu dipulihkan

Daniel 5 Kerajaan Babel, Raja Belsyazar
Terjadi peristiwa
penglihatan raja mengenai punggung tangan menulis di dinding, nubuat berakhirnya kerajaan Babel,
mimpi Daniel penglihatan 4 binatang besar naik dari laut, nubuat akan ada raja-raja yang muncul,
penglihatan munculnya domba jantan, kambing jantan, nubuat raja-raja yang muncul, Media Persia dan Yunani

Daniel 6 Kerajaan Media, Raja Darius, anak Ahasyweros 
Terjadi peristiwa
goa singa yang disediakan buat Daniel karena menyembah Allah,
Daniel memperhatikan kumpulan kitab jumlah tahun menurut Firman Tuhan kepada nabi Yeremia akan berlaku atas timbunan puing Yerusalem, yakni 70 tahun,
doa Daniel,
nubuat yang akan datang

Daniel 6 Kerajaan Persia, Raja Koresh
Terjadi peristiwa
penglihatan malaikat Gabriel, Mikhael, peperangan pemimpin orang Persia, Yunani

Selasa, 18 Agustus 2015

Persepuluhan

Persepuluhan atau perpuluhan bisa menjadi pembicaraan yang tidak ada akhirnya. Misalnya apakah zaman sekarang masih harus memberi perpuluhan, itu kan ajaran di Perjanjian Lama? Perhitungan 10 persen itu diambil dari penghasilan kotor atau bersih yang kita terima? Apakah saya akan dihukum bila saya memberi kurang dari 10 persen? Bagaimana jika saya hidup pas-pasan, apakah saya tetap harus memberi perpuluhan? Masih banyak pertanyaan-pertanyaan lain mengenai perpuluhan. Entah bertanya karena tidak tahu atau sudah tahu tapi mencari celah untuk keuntungan sendiri, misalnya tidak usah memberi perpuluhan.

Perpuluhan atau lebih nyaman kita menyebut persembahan secara materi (uang) sebagai bentuk ucapan syukur dan kewajiban kita untuk pekerjaan Tuhan di bumi ini. Padahal perpuluhan tidak saja berbicara mengenai materi, tetapi juga tenaga, talenta yang kita miliki, seluruhnya milik Tuhan. Kita yang mengelolah apa yang bisa kita berikan kepada Tuhan dan sesama manusia. Inilah inti perpuluhan, bukan sekedar angka 10 persen dari apa yang kita miliki.

Kita memberi karena kita ingin memberi dengan sukarela dan sukacita, tanpa ada paksaan atau ancaman dari siapapun. Kita memberi karena kita mengasihi Tuhan dan sesama kita. Memang di Perjanjian Lama, banyak ayat yang berbicara mengenai persepuluhan, sebab di zaman itu, ditentukan apa yang dimiliki bangsa Israel untuk Tuhan supaya bangsa Israel tidak bingung lagi bertanya berapa banyak yang harus diberikan kepada Tuhan. Ukuran 10 persen memang sebenarnya tidak memberatkan bangsa Israel, dengan 90 persen mereka bisa hidup baik-baik. Mungkin juga mereka harus membayar pajak kepada raja sebesar 10 persen, itu pun mereka masih bisa mencukupi hidupnya.

Di Perjanjian Baru, tidak terlalu ditekankan persepuluhan karena anugerah keselamatan telah kita rasakan dan kita ingin memberi lebih dari 10 persen ( seharusnya ya ). Bentuk dari 10 persen itu bisa diberikan kepada hamba Tuhan ( gereja ) agar dapat disalurkan ke pelayanan umat. Bisa juga ke yayasan sosial yang kita tahu jalannya benar. Ada banyak pelayanan yang membutuhkan dana, dukungan moral, tenaga yang seharusnya kita dukung, agar pekerjaan Tuhan bisa terlaksana dengan baik.

Mari kita renungkan Mat 25:40
40. Dan Raja itu akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Mal 3:10
10. Bawalah seluruh persembahan persepuluhan itu ke dalam rumah perbendaharaan, supaya ada persediaan makanan di rumah-Ku dan ujilah Aku, firman TUHAN semesta alam, apakah Aku tidak membukakan bagimu tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan.

2Kor 9:6-8
6. Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga.
7. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita.
8. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.

Salah satu tanda kita mengasihi Tuhan dan sesama adalah dengan memberi dengan sukacita dan sukarela.

Senin, 29 Juni 2015

Berani hidup

Banyaknya persoalan hidup membuat orang putus asa dan takut menghadapi hidup ini. Sebagian orang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan bunuh diri, bahkan mengajak orang lain untuk bunuh diri bersama- sama. Bermacam-macam alasan untuk bunuh diri, misalnya sakit yang tidak kunjung sembuh, tekanan hidup, putus cinta, kekurangan materi, penolakan dari lingkungan, ajaran sesat dan lain sebagainya.

Intinya bunuh diri menurut mereka yang melakukannya adalah jalan pintas atau terbaik untuk menghindari persoalan hidup ini. Apakah benar demikian?

Bukan keinginan kita semata untuk dilahirkan di dunia ini. Kita ada karena Tuhan berencana kita ada dan Dia memiliki tujuan untuk kita lakukan dalam hidup ini. Apa pun yang terjadi dalam hidup kita, Tuhan tetap beserta kita. Itu pun kalau kita tidak melarikan diri atau berontak dari pimpinanNya. Kita harus menyelesaikan tugas kita sampai Tuhan sendiri yang menjemput kita pulang ke rumahNya. Bisa saja kematian menjemput dengan cara yang menurut kita tidak wajar, seperti kecelakaan, sakit penyakit dan kesedihan yang mendalam.

Setidaknya kita sudah menjaga diri kita dengan makanan sehat, menjauhi marabahaya dan menjaga keseimbangan hidup. Kematian tidak usah kita cari, karena kematian yang akan mencari dan mendatangi kita, jika waktunya tiba. Urusan kita sekarang adalah apa yang kita kerjakan di dunia ini selama kita hidup. Kita tidak takut mati karena kita tahu, mati adalah keuntungan, bertemu dengan Tuhan langsung ( tentu saja kalau hidup kita bertanggung jawab ) dan kita seharusnya tidak takut hidup, walaupun kenyataannya hidup ini tidak mudah.

Hidup di dunia ini bukan sekedar hidup seadanya, tapi hidup yang memuliakan Tuhan.
1Pet1:13-19
13. Sebab itu siapkanlah akal budimu, waspadalah dan letakkanlah pengharapanmu seluruhnya atas kasih karunia yang dianugerahkan kepadamu pada waktu penyataan Yesus Kristus.
14. Hiduplah sebagai anak-anak yang taat dan jangan turuti hawa nafsu yang menguasai kamu pada waktu kebodohanmu,
15. tetapi hendaklah kamu menjadi kudus di dalam seluruh hidupmu sama seperti Dia yang kudus, yang telah memanggil kamu,
16. sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.
17. Dan jika kamu menyebut-Nya Bapa, yaitu Dia yang tanpa memandang muka menghakimi semua orang menurut perbuatannya, maka hendaklah kamu hidup dalam ketakutan selama kamu menumpang di dunia ini.
18. Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang yang fana, bukan pula dengan perak atau emas,
19. melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.

Seorang pemenang bukan hanya berani mati tetapi juga berani hidup.

Senin, 22 Juni 2015

Pengampunan

Berbicara mengenai keselamatan berarti berbicara mengenai pengampunan. Kita telah berdosa artinya kita melakukan kesalahan dengan tidak mentaati perintahNya, kita meminta maaf atas kesalahan kita kepada Tuhan. Namun permohonan maaf kita tidak berlaku jika tidak melalui Tuhan Yesus sebab tanpaNya kita tidak menyadari kesalahan kita, mana mungkin kita minta maaf. Orang yang tidak percaya Tuhan Yesus mungkin menyadari kesalahannya tetapi mencoba dengan usahanya sendiri untuk memperbaiki kesalahannya. Bisa dipastikan orang yang mengandalkan kekuatannya pasti putus asa dan tidak akan menemukan pengampunan. Hidupnya selalu dikejar-kejar oleh rasa bersalahnya atau kalau sudah dibiarkan terus menerus, maka dia akan terbiasa dengan dosa dan bahkan menikmatinya. Dia hanya akan takut melakukan kesalahan karena ada hukum di dunia yang masih berlaku. Hanya itu.

Berbeda dengan kita yang percaya kepada Tuhan Yesus, kita yang membawa dosa kita seperti perumpamaan orang yang berhutang, Mat 18:23-35
23. Sebab hal Kerajaan Sorga seumpama seorang raja yang hendak mengadakan perhitungan dengan hamba-hambanya.
24. Setelah ia mulai mengadakan perhitungan itu, dihadapkanlah kepadanya seorang yang berhutang sepuluh ribu talenta.
25. Tetapi karena orang itu tidak mampu melunaskan hutangnya, raja itu memerintahkan supaya ia dijual beserta anak isterinya dan segala miliknya untuk pembayar hutangnya.
26. Maka sujudlah hamba itu menyembah dia, katanya: Sabarlah dahulu, segala hutangku akan kulunaskan.
27. Lalu tergeraklah hati raja itu oleh belas kasihan akan hamba itu, sehingga ia membebaskannya dan menghapuskan hutangnya.
28. Tetapi ketika hamba itu keluar, ia bertemu dengan seorang hamba lain yang berhutang seratus dinar kepadanya. Ia menangkap dan mencekik kawannya itu, katanya: Bayar hutangmu!
29. Maka sujudlah kawannya itu dan memohon kepadanya: Sabarlah dahulu, hutangku itu akan kulunaskan.
30. Tetapi ia menolak dan menyerahkan kawannya itu ke dalam penjara sampai dilunaskannya hutangnya.
31. Melihat itu kawan-kawannya yang lain sangat sedih lalu menyampaikan segala yang terjadi kepada tuan mereka.
32. Raja itu menyuruh memanggil orang itu dan berkata kepadanya: Hai hamba yang jahat, seluruh hutangmu telah kuhapuskan karena engkau memohonkannya kepadaku.
33. Bukankah engkau pun harus mengasihani kawanmu seperti aku telah mengasihani engkau?
34. Maka marahlah tuannya itu dan menyerahkannya kepada algojo-algojo, sampai ia melunaskan seluruh hutangnya.
35. Maka Bapa-Ku yang di sorga akan berbuat demikian juga terhadap kamu, apabila kamu masing-masing tidak mengampuni saudaramu dengan segenap hatimu."

kita adalah orang yang berhutang sepuluh ribu talenta, nilai yang besar yang tidak mungkin kita bayar, tetapi kita beroleh pengampunan/pelunasan dari hutang dosa kita yang besar itu secara cuma cuma karena kita memohon pengampunan kepada Tuan kita. Namun Tuan kita pun menyuruh kita bersikap sama kepada sesama kita yang berhutang/bersalah kepada kita. Sebab kita tidak mungkin bisa menyelamatkan jiwa kita sendiri apalagi menyelamatkan jiwa orang lain. Keselamatan nilainya sangat besar dan kesalahan orang lain tidaklah sebanding dengan keselamatan kita.

Sebab itu hutang kita lebih besar daripada apa yang orang lain telah lakukan kepada kita. Orang lain mungkin hanya bisa menyakiti hati, mencuri harta benda atau membunuh tubuh kita tapi tidak bisa mengambil keselamatan yang Tuhan sudah berikan kepada kita. Ketika Petrus bertanya berapa kali harus mengampuni kesalahan orang lain dengan memberikan batasann jumlahnya, maka Tuhan menggenapi jumlahnya dengan angka sempurna, tidak terhitung lagi. Artinya tidak ada alasan untuk kita tidak mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Mat 18:21-22
21. Kemudian datanglah Petrus dan berkata kepada Yesus: "Tuhan, sampai berapa kali aku harus mengampuni saudaraku jika ia berbuat dosa terhadap aku? Sampai tujuh kali?"
22. Yesus berkata kepadanya: "Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.

Bahkan dalam doa yang diajarkan Tuhan Yesus dalam Doa Bapa Kami, lebih tegas lagi perintah untuk mengampuni. Mat 6:12  12. dan ampunilah kami akan kesalahan kami, seperti kami juga mengampuni orang yang bersalah kepada kami;
Terlihat seperti sebuah persyaratan bahwa pengampunan  hanya diberikan bagi orang yang memberikan pengampunan kepada sesamanya.

Hal terbesar yang dilakukan Tuhan Yesus di kayu salib, yang salah satunya menggetarkan hati seorang penjahat di sebelahNya sehingga dia percaya kepadaNya, ketika Dia berkata, Luk 23:34
34. Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat.

Jika Tuhan Yesus saja mau mengampuni kita, masakan kita tidak mau mengampuni sesama kita. Apakah kita lebih hebat dariNya? Mar 11:25
 25. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu."

Memang bukan pekerjaan yang mudah untuk mengampuni orang lain, tetapi ingatlah apa yang Tuhan telah lakukan lebih dulu buat kita, maka kita akan sanggup melakukannya. Pengampunan mendatangkan kelegaan, sukacita, kemerdekaan dari sakit hati, kecewa, kepahitan hati yang dapat membunuh hati nurani.